Tips Memilih Rumah dengan Cara KPR

Tips Memilih Rumah dengan Cara KPR – Jika Anda akan membeli rumah di tahun 2014 ini, Anda harus berpikir matang. Kebijakan baru dari Bank Indonesia mengenai kredit properti akan mempengaruhi harga jual dan uang muka untuk pembelian rumah baru. Tertanggal 24 September 2013, muncul Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 15/40/DKMP tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Pemilikan Properti, Kredit atau Pembiayaan Konsumsi Beragun Properti, dan Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor. Kebijakan yang berlaku mulai 30 September 2013, menyempurnakan SEBI No. 14/10/DPNP tanggal 15 Maret 2012 yang mematok uang muka atau down payment (DP) pembelian rumah nonsubsidi tipe di atas 70 m2 secara kredit minimal 30%. Selain persoalan uang muka, kebijakan ini juga membuat pembeli tidak bisa mengajukan KPR untuk rumah inden, alias rumah yang belum jadi. Jadi setiap pengajuan KPR ke bank, bangunan rumah harus sudah terbangun. Imbas dari kebijakan ini pun, uang muka yang harus dibayarkan pembeli menjadi besar, mencapai 30% dari harga jual rumah. Angka Down Payment (DP) ini pun bersifat progresif. Untuk pembelian rumah kedua, pembeli harus mengeluarkan dana DP 40%. Sedangkan untuk pembelian rumah ketiga dan seterusnya, DP yang dikeluarkan mencapai 50%.

Menjaga Kestabilan Ekonomi

Peningkatan angka DP ini memang terasa membebani Anda sebagai calon pembeli. Namun, kebijakan ini merupakan salah satu solusi untuk menjaga kondisi ekonomi tetap stabil. Menurut A. Prasetyantoko, Kepala Ekonom Bank BTN, sektor properti sangat memengaruhi siklus pertumbuhan ekonomi suatu negara. Bahkan beberapa krisis ekonomi disebabkan oleh adanya property bubble. “Pertanyannya adalah, apakah pertumbuhan properti di bulan Agustus 2013 (mencapai 30-an %) ini akan menyababkan bubbling? Jawabannya, belum. Tetapi kita juga tak ingin, pertumbuhan properti menjadi lebih tidak stabil, mengarah pada hal yang tidak diinginkan. Maka itulah, salah satu alasan LTV (kebijakan Loan to Value) diterapkan,” ujar Prasetyantoko saat acara diskusi HousingEstate Green Property Award 2013. Difi A. Johansyah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia pun ikut mengamini. Menurutnya, berdasarkan data yang ada, walau ketentuan Loan to Value (LTV) maksimal bagi KPR telah berlaku sejak 15 Juni 2012, tapi pertumbuhan KPR tipe > 70 m² dan kredit untuk flat/apartment >70m² masih tinggi. Pertumbuhan kredit masing-masing pada Mei 2013 mencapai 25,9% untuk rumah dan 60,3% untuk apartemen . Kenaikan harga yang membubung tinggi juga dikhawatirkan dapat menjadi pemicu instabilitas keuangan. Salah satunya apabila terjadi “gagal bayar” oleh masyarakat yang memanfaatkan jasa lembaga keuangan sebagai sumber pembiayaan pembelian rumahnya. Karena itu, dibutuhkan alternatif yang dapat mengendalikan pembelian properti, terutama pembelian properti yang bukan untuk kebutuhan primer. “Tujuan dari pengetatan LTV ini sendiri untuk menyehatkan sektor properti. Potensi gejolak yang mungkin bisa berbahaya pada pelaku properti itu sendiri bisa ditekan,” ujar Diffi.

Pengembang Mencari Solusi

Beban uang muka yang tinggi memang memberatkan, namun Anda tak perlu terlalu khawatir. Para pengembang perumahan, yang terkena dampak secara langsung, mempunyai berapa cara agar produk rumah yang mereka jual tetap terserap ke pasar. “ Jadi kita sebagai pengambang harus survive. Kita pasti akan menyiasati apapun untuk kepentingan market. Tahun 2014, bagi pengembang, mungkin menjadi very tough moment. Tapi jangan salah, kami telah melaksanakan survei, (ada) titik tertentu yang masih membutuhkan rumah,” ungkap Lilia Sukotjco, Direktur Marketing PT Alam Sutera Realty Tbk. Lilia menambahkan, survei ini juga akan diuji saat pertangahan tahun 2014 meluncukan produk baru. Ia akan melihat bukti dari survei tersebut. “Kita akan lihat apakah benar survei tersebut? Tetap ada sebuah titik, dimana ada kebutuhan (akan rumah), di situ (kami) akan masuk. Kita akan jual. Tapi di situ kita juga harus mendampingi satu per satu costumer untuk mendapat produk yang tepat,” imbuh Lilia. Andy K. Natanael, Managing Director PT Modernland Realty Tbk., memberi jalan keluar yang lain.

Menurutnya, dengan adanya kebijakan LTV sekarang, maka cara pembayaran DP akan menyesuaikan dengan tahap pengembangan. “Jadi DP-nya kita sesuaikan dengan pembangunan. DP akan kita bagi sesuai jumlah bulan untuk pembangunan rumah. Jadi misal pembangunan 18 bulan, DP 50%, maka akan kita bagi 18 bulan. Jadi dikaitkan dengan cicilan. Jadi itu lebih meringankan untuk konsumen,” kata Andy. Dengan cara DP yang dicicil ini, uang muka yang tinggi bisa lebih terjangkau. Besarnya DP yang harus dikeluarkan bisa dibagi dalam beberapa cicilan bulanan. “Setelah proses cicilan DP selesai, maka akan berlanjut ke akad kredit. Cicilan kreditnya ke bank. Rumah jadi, baru ajukan kredit ke bank. Tapi mungkin harga akan sedikit naik dari sebelumnya,” tutup Andy. Jadi, saatnya merencanakan lebih matang kesiapan dana untuk pembayaran uang muka rumah Anda!

Pastikan Perumahan yang anda Beli Tersedia Genset

Peranan genset sangat vital bagi aktifitas sehari hari di rumah anda. Apalagi perumahan baru yang pemasangan listrik dari PLN termasuk belum lama, sehingga terkadang sering terjadi pemadaman listrik untuk keperluan perawatan oleh PLN, terutama perumahan perumahan di Bali. Untuk itu pastikan anda memiliki genset yang di beli dari supplier jual genset bali terpercaya dan bergaransi resmi