Puisi dari Hamsad Rangkuti

Puisi dari Hamsad Rangkuti – Duduk di samping makam suaminya, Nurwinda Sari membacakan baris-baris puisi karya Yudistira A.N.M. Massardi berjudul Kematian Itu dengan tulisan “Kepada Hamsad Rangkuti” di bagian bawahnya. Puisi yang terdiri atas beberapa bait itu antara lain berbunyi: “Kematian itu menggoreskan duka/ Mengantar terakhir pada kuburnya/ Kematian itu memastikan/ pasti yang pasti/ Ke dalam hati….” Puisi tersebut menutup prosesi pemakaman Hamsad Rangkuti, sang maestro cerpen Indonesia, di Tempat Pemakaman Umum Kukusan, Depok, Jawa Barat, kemarin sore. Hamsad Rangkuti meninggal dalam usia 75 tahun di kediamannya di Depok, kemarin pagi. Ia meninggalkan seorang istri dan empat anak. Hamsad diketahui mengidap penyakit kompleks, dari prostat, jantung, sampai stroke. Hamsad sudah beberapa kali keluarmasuk rumah sakit dalam beberapa tahun terakhir. Pria ini bernama asli Hasyim Rangkuti, kelahiran Titi Kuning, Medan Johor, Medan, Sumatera Utara, 7 Mei 1943. Ia salah satu penanda tangan Manifesto Kebudayaan pada 1964. Majalah Horison juga lekat pada pria peraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award pada 2003 ini melalui karyanya, Bibir dalam Pispot, dan penghargaan SEA Write Award 2007. “Penghargaan ini menjadi pembukti kualitas karya almarhum,” ujar pengamat sastra Zen Hae kepada Tempo. Banyak karya cerita pendeknya yang populer, di antaranya Sukri Membawa Pisau Belati dan Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu. Sejumlah cerita pendek Hamsad telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Sampah Bulan Desember, yang diterjemahkan ke bahasa Inggris. Novel pertamanya, Ketika Lampu Berwarna Merah, diterbitkan Kompas pada 1981. Cerpen-cerpennya juga termuat dalam beberapa antologi cerita pendek mutakhir. Menurut Zen Hae, Hamsad Rangkuti adalah pengarang yang sangat peduli pada kehidupan rakyat kecil, tanpa harus menyebut dirinya sebagai pengarang kiri. Ia juga seorang pengarang cerita realis yang piawai, yang kerap mengecoh pembaca dengan kejutan-kejutan peristiwa yang tidak terduga. “Itu sebuah kemahiran bercerita yang tidak dimiliki setiap pengarang,” ujar Zen. Dia juga mendapati bahasa Indonesia yang didayagunakan dengan baik pada karya-karya Hamsad Rangkuti. Lancar, jernih, dan bergaya. Dengan demikian, kata Zen, tugas pengarang sebagai pencipta dan perawat bahasa telah berhasil. Jika ada kelihaian lain pada karyakarya Hamsad Rangkuti, itu adalah humor.

Ia menilai humor Hamsad adalah tema yang tidak mudah digarap dalam sastra Indonesia. Tak jarang humor itu berkelindan dengan kritik yang ia lancarkan. “Pembaca mungkin meringis karena kritik itu, tapi juga bisa nyengir karena disampaikan dengan selipan humor.” Rasa humor ini boleh jadi dibawa dari budaya di Medan, tempat Hamsad tumbuh. Martin Aleida, sastrawan yang juga teman saat SMP di Medan, berkisah bahwa sahabatnya ini adalah orang yang pandai bercerita dan bergaul. “Dia itu baik, suka bikin orang ketawa. Bikin cerita bohong buat bikin orang ketawa. Ya kebiasaan Puisi Kematian di Makam Hamsad Rangkuti Hamsad Rangkuti adalah pengarang cerita realis yang piawai, dekat dengan persoalan rakyat kecil, dan penyemangat penulis muda. orang di Medan begitu,” ujarnya. Suatu kali Martin berniat mengirim cerpen ke Horison. Naskah tulisan tangan itu diantar ke rumah Hamsad untuk diketik. Saat itu Martin terlihat seperti gelandangan, kurus, kumal, bersandal jepit. Namun Hamsad percaya begitu saja menyerahkan mesin ketik di ruang tamu kepada Martin, lalu Hamsad masuk ke kamar. “Dia bilang saat itu, kalau mesin tik tidak berbunyi, berarti sudah dibawa maling. Tapi kenyataannya mesin tik bunyi terus, karena saya hanya menyalin,” ujar Martin sambil tertawa. Penulis dan pengamat seni Bambang Budjono, yang pernah bekerja di Horison pada periode 1973-1978, menilai motor penggerak majalah yang dikelola Yayasan Indonesia itu adalah orang baik sehingga banyak disukai orang, terutama seniman muda pada zamannya. “Bahkan honor menulis di Horison itu boleh diambil dulu,” ujar Bambu—sapaan Bambang Budjono. Bagi Bambu, selama lima tahun bekerja dia melihat Hamsad adalah sosok yang sederhana, pernah punya mobil tapi lebih sering naik bus. Kalau dikritik, paling hanya tertawa. Istrinya, Nurwinda, mengatakan suaminya itu adalah seorang ayah yang baik dan selalu membuka diri. “Almarhum baik banget, tidak pernah marah sama saya. Bisa dibilang dia suami terbaik dan jujur. Banyak orang dan rekan suka dia,” ujarnya di rumah duka. Hamsad seorang teladan bagi anak-anaknya, seorang yang lembut dan cukup egaliter. Menurut Nurwinda, almarhum selalu melarangnya memukul anak-anak ketika mereka bersalah.

Ia juga membebaskan anak-anaknya dalam mencari jodoh, serta murah hati dan tidak pelit meski dalam keadaan kekurangan. Suaminya itu pun selalu menyemangati para penulis muda untuk berkarya, menggelorakan sikap pantang menyerah kepada semua penulis maupun seniman. Tak mengherankan jika kemudian ia dikenal sangat dekat dengan para penulis muda. Mereka memanggilnya dengan akrab: Bang Hamsad. “Dia bilang, apa yang kalian akan tulis, ya sudah tulis saja, tidak usah minder. Biar mereka (masyarakat) dan waktu yang menilai, jangan gentar dan takut,” ujar Nurwinda