Ekspor Perikanan Lampung Potensial Ditingkatkan

Ekspor produk perikanan Indonesia menghadapi hambatan eksternal dan internal yang tidak kalah pelik. Perlu memangkas hambatan dari dalam negeri agar ekspor berjalan lancar. Menurut Yusuf Kohar, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), potensi perikanan di Lampung cukup besar mengingat 41% atau 24.820 km2 dari 60.200 km2 wilayah ini adalah perairan laut. Khusus budidaya kawas an pesisir yang sudah dibuka berupa tambak seluas 161.267 ha, budidaya laut 50.518 ha, keramba 11.489 unit, dan keramba jaring apung 11.532 unit.

Sumber Ekonomi Dari sisi produksi, potensi sumber daya ikan di Lampung mencapai 380 ribu ton/tahun namun realisasinya baru 120.766 ton/tahun. “Masih terbuka peluang pemanfaatan sumber daya ikan sebesar 259.233 ton atau sekitar 68,22%,” ujar Yusuf pada focus group disscusion yang digelar dalam rangka pengukuhan Korps Alumni Akademi Usaha Perikanan–Sekolah Tinggi Perikanan Wilayah Lampung masa bakti 2018-2023. Wakil Walikota Bandarlampung itu menilai, sektor perikanan dan kelautan bisa menjadi salah satu sumber utama pertum buhan ekonomi karena besarnya potensi yang belum dimanfaatkan sedangkan permintaannya tumbuh pesat.

Sektor ini juga padat karya sehingga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan bisa membangkitkan sektor hilir. Hanya saja perlu perjuangan untuk mengembangkan perikanan. Bersatunya insan perikanan dalam berbagai wadah, baik wadah pengusaha maupun praktisi adalah momentum untuk bangkitnya sektor perikanan di Lampung. Yusuf juga mengharapkan peran lebih pemerintah dalam mengembangkan perikanan.

Menurut dia, kegagalan kemitraan tambak udang terbesar di dunia, yaitu PT Dipasena Citra Darmaja karena kurangnya peran pemerintah daerah (pemda) dalam menyelamatkan perusahaan perikanan terpadu itu. “Dipasena hancur karena Pemda kurang peduli. Sebab kasusnya sama, yakni ketidakpuasan petambak mitra, tapi karena Pemda Sumsel lebih peduli, PT Wahyuni Mandira di OKI bisa diselamatkan,” urainya.

Ia mengingatkan agar kasus ini menjadi pembelajaran bagi Pemda Lampung dan meminta pemda mempermudah perizinan dan minimalisasi pungutan yang memberatkan investor. Berbagai Hambatan Selain itu, sejumlah faktor yang menghambat perkembangan sektor perikanan dan kelautan antara lain fenomena alam seperti pemanasan global, bencana alam dan populasi penduduk. Lalu, permodalan, tarif listrik, dan harga BBM.

Yang juga berpengaruh besar dalam pengembangan usaha perikanan adalah kebijakan pemerintah pusat seperti larangan operasional kapal asing. “Kapal-kapal penangkap ikan milik PT Indokom yang dibeli dari Jepang tidak bisa beroperasi karena ada larangan operasi kapal asing. Saat ini kapal-kapal itu terpaksa nongkrong di Sorong, Papua,” katanya. Menurut Yusuf, kapal itu dibeli karena teknologinya lebih canggih dan harganya bersaing dengan produk dalam negeri. Seharusnya ketika sudah dimiliki perusahaan lokal dan berbendera Indonesia, tidak lagi terkena aturan operasional kapal asing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *