Ekspor Perikanan Lampung Potensial Ditingkatkan Bagian 2

Faktor lainnya yakni persaingan antarnegara produsen yang sering menghambat ekspor produk perikanan, terutama persaingan harga. Termasuk larangan ekspor dari negara konsumen dengan berbagai alasan. Faktor pangsa pasar juga sangat menentukan perkembangan usaha perikanan. Jika pangsa pasar produk perikanan terbatas, tentu akan sulit berkembang. Ekspor Udang Anjlok Sri Anggoro, Kabid Harmonisasi dan Penanganan Kasus, BKIPM, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyoroti turunnya ekspor perikanan dari Lampung dalam setahun terakhir, khususnya udang.

Pada 2016 volume ekspor perikanan Lampung mencapai 26 ribu ton dengan nilai US$256,55 ribu yang didominasi udang sebanyak 23,01 ribu ton dengan nilai US$222,29 ribu. Angka itu turun drastis menjadi 15,38 ribu ton dengan nilai US$176,48 ribu pada 2017. Penurunan itu terjadi karena anjloknya ekspor udang hingga separuh atau 12,77 ribu ton senilai US$135,31. Kondisi ini menyebabkan kontribusi ekspor perikanan Lampung terhadap ekspor perikanan nasional juga merosot.

Jika pada 2016 kontribusi perikanan Lampung sebesar 3,6% dari sisi volume dan 6,18% dari sisi nilai maka pada 2017 hanya 1,79% untuk volume dan 3,69% untuk nilai ekspor. Sri meminta para pemangku kepentingan di Lampung untuk mengevaluasi terkait penyebab anjloknya ekspor produk perikanan. Ia mengatakan, tahun ini peluang Lampung meningkatkan ekspor perikanan terbuka lebar, termasuk ke Australia. Baru-baru ini tim inspeksi udang dari Australia mengunjungi PT Indokom dan pembenihan PT Prima Larvae di Lampung.

“Keduanya memiliki sistem yang terintegrasi dengan baik sehingga mendapat keyakinan dari Australia. Dengan begitu membuka peluang ekspor udang dari Lampung ke negara tersebut,” ungkapnya. Pada 2017, lanjut Sri, negara utama tujuan ekspor perikanan Lampung yakni Amerika sebesar 8.647 ton dengan nilai US$103,60 juta. Lalu disusul Jepang 2.158 ton senilai US$22,27 juta, Belanda 2.002 ribu senilai US$23,06 juta dan Inggris sebanyak 1.286 ribu ton senilai US$15,87 juta.

Pemasalahan ekspor yang dihadapi di negara ekspor, ungkapnya, untuk AS berupa tidak adanya notifikasi kasus dari USFDA, disusul kasus ikan bau, adanya salmonela, dan penerapan seafood import monitoring programme (SIMP). Permasalahan di Uni Eropa adalah belum menambah nomor persetujuan. Ada 177 Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang memiliki nomor persetujuan dari sekitar 70 UPI yang aktif melakukan ekspor. Uni Eropa juga rutin melakukan inspeksi ke Indonesia setiap tahun. Biasanya Lampung menjadi salah satu lokasi yang ditinjau.

Persoalannya, ungkap Sri, banyak ketidaksesuaian hasil inspeksi yang berpotensi mempengaruhi kelancaran ekspor perikanan Indonesia. Pendataan yang dilakukan BIKPM pada 2017, ada 14 kasus penolakan produk ikan Indonesia yang dilakukan Uni Eropa, diikuti Kanada 3 kasus, serta Rusia dan Korea masing-masing 1 kasus. Angka itu naik dibandingkan 2016 yang totalnya hanya 18 kasus. Untuk tahun ini saja Eropa menolak produk ikan yang diekspor sebanyak 11 kasus.

Ekspor Perikanan Lampung Potensial Ditingkatkan

Ekspor produk perikanan Indonesia menghadapi hambatan eksternal dan internal yang tidak kalah pelik. Perlu memangkas hambatan dari dalam negeri agar ekspor berjalan lancar. Menurut Yusuf Kohar, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), potensi perikanan di Lampung cukup besar mengingat 41% atau 24.820 km2 dari 60.200 km2 wilayah ini adalah perairan laut. Khusus budidaya kawas an pesisir yang sudah dibuka berupa tambak seluas 161.267 ha, budidaya laut 50.518 ha, keramba 11.489 unit, dan keramba jaring apung 11.532 unit.

Sumber Ekonomi Dari sisi produksi, potensi sumber daya ikan di Lampung mencapai 380 ribu ton/tahun namun realisasinya baru 120.766 ton/tahun. “Masih terbuka peluang pemanfaatan sumber daya ikan sebesar 259.233 ton atau sekitar 68,22%,” ujar Yusuf pada focus group disscusion yang digelar dalam rangka pengukuhan Korps Alumni Akademi Usaha Perikanan–Sekolah Tinggi Perikanan Wilayah Lampung masa bakti 2018-2023. Wakil Walikota Bandarlampung itu menilai, sektor perikanan dan kelautan bisa menjadi salah satu sumber utama pertum buhan ekonomi karena besarnya potensi yang belum dimanfaatkan sedangkan permintaannya tumbuh pesat.

Sektor ini juga padat karya sehingga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan bisa membangkitkan sektor hilir. Hanya saja perlu perjuangan untuk mengembangkan perikanan. Bersatunya insan perikanan dalam berbagai wadah, baik wadah pengusaha maupun praktisi adalah momentum untuk bangkitnya sektor perikanan di Lampung. Yusuf juga mengharapkan peran lebih pemerintah dalam mengembangkan perikanan.

Menurut dia, kegagalan kemitraan tambak udang terbesar di dunia, yaitu PT Dipasena Citra Darmaja karena kurangnya peran pemerintah daerah (pemda) dalam menyelamatkan perusahaan perikanan terpadu itu. “Dipasena hancur karena Pemda kurang peduli. Sebab kasusnya sama, yakni ketidakpuasan petambak mitra, tapi karena Pemda Sumsel lebih peduli, PT Wahyuni Mandira di OKI bisa diselamatkan,” urainya.

Ia mengingatkan agar kasus ini menjadi pembelajaran bagi Pemda Lampung dan meminta pemda mempermudah perizinan dan minimalisasi pungutan yang memberatkan investor. Berbagai Hambatan Selain itu, sejumlah faktor yang menghambat perkembangan sektor perikanan dan kelautan antara lain fenomena alam seperti pemanasan global, bencana alam dan populasi penduduk. Lalu, permodalan, tarif listrik, dan harga BBM.

Yang juga berpengaruh besar dalam pengembangan usaha perikanan adalah kebijakan pemerintah pusat seperti larangan operasional kapal asing. “Kapal-kapal penangkap ikan milik PT Indokom yang dibeli dari Jepang tidak bisa beroperasi karena ada larangan operasi kapal asing. Saat ini kapal-kapal itu terpaksa nongkrong di Sorong, Papua,” katanya. Menurut Yusuf, kapal itu dibeli karena teknologinya lebih canggih dan harganya bersaing dengan produk dalam negeri. Seharusnya ketika sudah dimiliki perusahaan lokal dan berbendera Indonesia, tidak lagi terkena aturan operasional kapal asing.

Budidaya Udang Sarat Inovasi ala Soleman

Membangun IPAL tidak mahal dan tidak membutuhkan lahan luas. Meski masih tergolong pemain baru, Soleman D. Lullulangi termasuk pembudidaya udang vaname di Lampung dan Bengkulu yang melakukan banyak inovasi. Mulai dari membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) ala industri, aplikasi sinar ultraviolet (UV), hingga pendederan benur. IPAL ala Industri Soleman membudida yakan si bongkok di Pa dang Cermin, Kab. Pesawaran, Lampung, serta Padang Hangat dan Tebing Rambutan, Bintuhan, Kab. Kaur, Bengkulu. Ketika memulai budidaya udang, mantan teknisi tambak PT Dipasena Citra Darmaja ini sudah berencana membangun IPAL.

Beruntung, ia memiliki teman yang paham soal instalasi pengolahan limbah pabrik. “Saya adopsi instalasi yang dimiliki pabrik minuman ringan. Di samping biaya pembuatannya tidak mahal, lahan yang dibutuhkan juga tidak luas,” alasannya. Pertimbangan lainnya setiap panen ia harus merogoh Rp28 juta buat mengangkat dan membuang limbah padat yang menumpuk di kolam penampungan. Limbah yang mengalir ke laut itu masih kotor karena pengendapannya belum sempurna dan zat organiknya masih tinggi.

Sementara limbah padat setengah kering diangkat lalu dikeringkan untuk dijadikan pupuk. Instalasi UV Soleman juga membangun saluran inlet melewati 40 unit lampu dengan sinar UV sebelum masuk ke kolam budidaya. Tujuannya mematikan bakteri, jamur, virus, dan inang yang terbawa dari laut sehingga menghemat biaya obat-obatan. Dengan instalasi UV, ia juga menghemat biaya konstruksi dan efisiensi lahan karena tidak perlu membangun tandon.

Namun efektivitas sinar UV dalam membunuh bibit penyakit belum diuji lab. Pada musim gelombang tinggi dengan kondisi air lebih keruh, ucapnya, aplikasi sinar UV sangat membantu karena air yang masuk ke kolam lebih jernih. Di sisi lain, keruhnya air di lepas pantai akibat gelombang tinggi dan ombak besar justru menguntungkan pembudidaya. “Budidaya saat gelombang tinggi lebih aman terhadap penyakit. Mungkin penyakit, terutama virus myo, konsentrasinya jauh berkurang karena terbawa arus bawah laut yang kuat ke tengah lautan,” ia menduga.

Dugaan ini bisa jadi benar karena di Pantai Timur Sumatera yang kondisi air di lepas pantainya keruh, udang jarang terserang Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) alias myo. Pendederan Di tambak Padang Cermin, Soleman mengaplikasikan teknik pendederan benur. Selama ini benur yang baru datang dari pembenihan hanya diaklimatisasi 1 jam lalu ditebar ke kolam. Dengan tenik pendederan, benur yang baru tiba dimasukkan dulu ke tangki berukuran 1,5 m3 lalu diberi pakan artemia dan dibiarkan makan selama 3 jam.

Setelah benur kenyang, baru di masukkan ke kolam pendenderan dan dipelihara selama 20 hari. Soleman mengadopsi teknik ini dari teman sesama “alumni” Dipasena. Ia belajar teknik pendederan karena udang di Padang Cermin sering terserang myo saat umur di atas 60 hari. Ketika memasuki usia 60 hari di kolam umumnya, udang yang didederkan sejatinya sudah berumur 80 hari saat di kolam budidaya sehingga jika terserang penyakit bisa langsung dipanen dengan ukuran 70 ekor/kg.

“Dari pengalaman temanteman di Yogya, aplikasi sistem yang sudah mereka jalankan selama 5 siklus budidaya ini sangat membantu dalam mencegah serangan berbagai penyakit,” ungkapnya. Ia mengakui, aplikasi pendederan ini cukup rumit. Proses pemindahan benur dari tangki pendederan ke kolam budidaya cukup merepotkan. Namun, sistem dari Yogya ini lebih simpel. Untuk memindahkan benur cukup dijaring lalu dihitung dalam boks khusus lantas dimasukan ke kolam budidaya