Semua Anak Bisa Sukses Bagian 2

DEMI KEBAIKAN ANAK

Jelaslah, stimulasi sangat berperan untuk mencapai kesuksesan. Potensi bawaan anak perlu mendapat rangsangan sejak dini dan disesuaikan dengan tahap perkembangannya, yang mencakup kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosial, dan emosional. Nah, dengan rangsangan yang tepat, diharapkan semua aspek potensi kecerdasan si buah hati akan berkembang sebagaimana mestinya, bahkan maksimal.

Tentunya, dalam mengakomodasi potensi/bakat tersebut dengan tanpa paksaan. Memang, untuk mencapai keberhasilan diperlukan upaya atau latihan yang keras. Dalam hal ini, orangtua berperan memberikan motivasi, sebagai penyemangat sehingga anak dapat menjalani latihan yang terbilang keras demi mencapai keberhasilan.

Jadi, dalam melakukan arahan, pendampingan, juga melatih anak, supaya bisa sukses, silakan saja orangtua menjalankan program-program yang sudah disusun, namun hindari memberikan target apa pun. Sebaiknya, biarkan si anak sendiri yang menetapkan targetnya. Orangtua cukup menjadi pelatih, manajer yang memberikan pandangan/ masukan, dari latihan hingga target yang ditetapkan anak, penyemangat, dan penghibur kala target yang ditetapkan anak tidak tercapai.

Bakat anak yang berkembang dengan baik dan bisa berguna untuk lingkungannya, serta anak menikmati pengembangan bakatnya tanpa merasa dipaksa, sesungguhnya hal ini sudah termasuk sebuah keberhasilan alias kesuksesan. Pasalnya, anak yang “sukses” secara utuh tidak hanya menonjol dalam satu bidang saja, namun secara pribadi juga memiliki kematangan emosi, memiliki karakter yang baik, dan termotivasi secara intrinsik alias memiliki dorongan berprestasi dari dalam dirinya, bukan karena iming-iming hadiah dan sebagainya.

Itulah mengapa, orangtua tidak perlu mem-push anak untuk berprestasi, sekalipun itu bakat si anak. Tapi bukan berarti tidak boleh mendorong anak untuk menjadi seorang juara dan mendapatkan banyak penghargaan atau hadiah. Orangtua boleh saja memberikan dorongan tersebut, tapi tujuannya harus demi kebaikan anak.

Selain itu, jangan lupakan bahwa anak memiliki hak-hak yang tidak boleh diabaikan, yakni: hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan, mendapatkan perlindungan, ada waktu untuk berekreasi. Jadi jangan sampai dengan dalih demi kebaikan anak, orangtua lupa bahwa anak bukanlah objek yang dijadikan tolok ukur keberhasilan kita sebagai orangtuanya.

Semua Anak Bisa Sukses

Apa sih kriteria sukses menurut Mama Papa? Ternyata, kriteria sukses itu relatif dan tidak bisa disamaratakan pada masing-masing individu. Ada yang memaknai sukses dengan pencapaian prestasi akademik, ada juga yang mengartikan sukses sebagai keberhasilan mengembangkan minat dan bakat dengan optimal sehingga meraih penghargaan tertentu, dan berbagai de!nisi sukses lain yang tentunya bermakna positif.

Yang penting dipahami, setiap anak adalah manusia yang unik. Pada diri mereka terdapat potensi yang belum tentu sama dengan anak lainnya, sekalipun saudara kandungnya sendiri. Contoh, si kakak berprestasi di bidang akademis, si adik belum tentu, bisa jadi si adik berprestasi di bidang seni. Memang, ada juga kakak dan adik yang memiliki minat/bakat di bidang yang sama. Akan tetapi, untuk kesuksesan belum tentu, bisa jadi si adik yang jauh lebih menonjol.

Itulah mengapa, sungguh tidak bijaksana apabila kita menilai kesuksesan dari membandingbandingkan antara kakak dengan adik atau sebaliknya dan antara anak dengan anak lain. Lantas, bagaimana caranya agar anak sukses?

KENALI BAKAT ANAK

Menyimak paparan empat Mama di halaman sebelumnya, kesuksesan buah hati diawali dengan mengetahui bakat anak, kemudian memaksimalkan bakat tersebut. Nah, bagaimana cara mengetahui bakat anak? Sebelum menjawab pertanyaan ini, baiklah kita simak dahulu teori Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk) yang dicetuskan oleh Howard Gardner. Kecerdasan Majemuk ini meliputi: Linguistik, Logika Matematika, Ruang/Spasial, Kinestetik, Musik, Interpersonal, Intrapersonal, Lingkungan/Naturalis, dan Kecerdasan Eksistensial. Profesor pendidikan dari Harvard University ini menggunakan kata kecerdasan (intelligence) sebagai “pengganti” kata bakat.

Nah, untuk mengetahui bakat anak, orangtua bisa memulainya dari kehidupan sehari-hari di rumah. Contoh, orangtua senang bermain piano, tidak menutup kemungkinan anak akan tertarik, jika setiap hari orangtua selalu bermain piano. Jika anak difasilitasi dan diberikan kesempatan mencoba dan belajar bermain piano, selanjutnya orangtua tinggal melihat perkembangan berikutnya, apakah kemampuannya meningkat atau malah menurun. Jika meningkat dan anak semakin fun, juga semangat bermain piano, ada kemungkinan dia berbakat dalam hal tersebut.

Jika latihannya terus dan terus diarahkan, kemungkinannya dia akan menjadi anak sukses di bidang seni atau yang lebih spesi!k, piano. Namun jangan lupa, dengan adanya Kecerdasan Majemuk, maka seorang anak bisa saja menonjol pada salah satu atau lebih aspek kecerdasan tersebut bila diberi stimulasi dan kesempatan yang memadai. Artinya, seorang anak bisa memiliki bakat lebih dari satu. Boleh jadi, misalnya, selain memiliki potensi/bakat seni musik, ia ternyata memiliki bakat di bidang lain. Untuk itu, upayakan stimulasi juga untuk potensi-potensinya yang lain ini sehingga berkembang optimal pula.

Dengan orangtua menstimulasi semua potensi anak, nanti akan tampak apa minat dan bakat anak. Ia menunjukkan semangat untuk beraktivitas terkait potensinya itu, bahkan mulai menunjukkan hasil atau prestasi, semisal, menjuarai lomba menggambar tingkat sekolah. Selanjutnya, asah dan bina terus minatnya itu dengan mengikutkan anak pada lembaga kursus, mengikuti berbagai perlombaan/kompetensi lainnya, ikut dalam pameran, dan sebagainya.

Dengan mengikutkan anak pada berbagai pengalaman dan tantangan seperti itu, baik kejuaraan, pentas, dan lainnya, bakatnya makin terasah. Seiring dengan itu, orangtua perlu menjelaskan pada anak, apa saja potensi yang dimilikinya. Dengan begitu, ia akan belajar untuk memetakan potensi diri. Alhasil, ia juga akan belajar apa kelebihannya sekaligus kekurangannya, sehingga ia pun akan terfokus untuk meningkatkan kemampuan diri sehingga makin berkualitas.

Nah, sedangkan untuk anak yang akan menghadapi tes IELTS sebaiknya berikan ia bekal yang cukup melalui lembaga kursus persiapan IELTS terbaik di Jakarta.