Budidaya Udang Sarat Inovasi ala Soleman

Membangun IPAL tidak mahal dan tidak membutuhkan lahan luas. Meski masih tergolong pemain baru, Soleman D. Lullulangi termasuk pembudidaya udang vaname di Lampung dan Bengkulu yang melakukan banyak inovasi. Mulai dari membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) ala industri, aplikasi sinar ultraviolet (UV), hingga pendederan benur. IPAL ala Industri Soleman membudida yakan si bongkok di Pa dang Cermin, Kab. Pesawaran, Lampung, serta Padang Hangat dan Tebing Rambutan, Bintuhan, Kab. Kaur, Bengkulu. Ketika memulai budidaya udang, mantan teknisi tambak PT Dipasena Citra Darmaja ini sudah berencana membangun IPAL.

Beruntung, ia memiliki teman yang paham soal instalasi pengolahan limbah pabrik. “Saya adopsi instalasi yang dimiliki pabrik minuman ringan. Di samping biaya pembuatannya tidak mahal, lahan yang dibutuhkan juga tidak luas,” alasannya. Pertimbangan lainnya setiap panen ia harus merogoh Rp28 juta buat mengangkat dan membuang limbah padat yang menumpuk di kolam penampungan. Limbah yang mengalir ke laut itu masih kotor karena pengendapannya belum sempurna dan zat organiknya masih tinggi.

Sementara limbah padat setengah kering diangkat lalu dikeringkan untuk dijadikan pupuk. Instalasi UV Soleman juga membangun saluran inlet melewati 40 unit lampu dengan sinar UV sebelum masuk ke kolam budidaya. Tujuannya mematikan bakteri, jamur, virus, dan inang yang terbawa dari laut sehingga menghemat biaya obat-obatan. Dengan instalasi UV, ia juga menghemat biaya konstruksi dan efisiensi lahan karena tidak perlu membangun tandon.

Namun efektivitas sinar UV dalam membunuh bibit penyakit belum diuji lab. Pada musim gelombang tinggi dengan kondisi air lebih keruh, ucapnya, aplikasi sinar UV sangat membantu karena air yang masuk ke kolam lebih jernih. Di sisi lain, keruhnya air di lepas pantai akibat gelombang tinggi dan ombak besar justru menguntungkan pembudidaya. “Budidaya saat gelombang tinggi lebih aman terhadap penyakit. Mungkin penyakit, terutama virus myo, konsentrasinya jauh berkurang karena terbawa arus bawah laut yang kuat ke tengah lautan,” ia menduga.

Dugaan ini bisa jadi benar karena di Pantai Timur Sumatera yang kondisi air di lepas pantainya keruh, udang jarang terserang Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) alias myo. Pendederan Di tambak Padang Cermin, Soleman mengaplikasikan teknik pendederan benur. Selama ini benur yang baru datang dari pembenihan hanya diaklimatisasi 1 jam lalu ditebar ke kolam. Dengan tenik pendederan, benur yang baru tiba dimasukkan dulu ke tangki berukuran 1,5 m3 lalu diberi pakan artemia dan dibiarkan makan selama 3 jam.

Setelah benur kenyang, baru di masukkan ke kolam pendenderan dan dipelihara selama 20 hari. Soleman mengadopsi teknik ini dari teman sesama “alumni” Dipasena. Ia belajar teknik pendederan karena udang di Padang Cermin sering terserang myo saat umur di atas 60 hari. Ketika memasuki usia 60 hari di kolam umumnya, udang yang didederkan sejatinya sudah berumur 80 hari saat di kolam budidaya sehingga jika terserang penyakit bisa langsung dipanen dengan ukuran 70 ekor/kg.

“Dari pengalaman temanteman di Yogya, aplikasi sistem yang sudah mereka jalankan selama 5 siklus budidaya ini sangat membantu dalam mencegah serangan berbagai penyakit,” ungkapnya. Ia mengakui, aplikasi pendederan ini cukup rumit. Proses pemindahan benur dari tangki pendederan ke kolam budidaya cukup merepotkan. Namun, sistem dari Yogya ini lebih simpel. Untuk memindahkan benur cukup dijaring lalu dihitung dalam boks khusus lantas dimasukan ke kolam budidaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *