Ekspor Perikanan Lampung Potensial Ditingkatkan Bagian 2

Faktor lainnya yakni persaingan antarnegara produsen yang sering menghambat ekspor produk perikanan, terutama persaingan harga. Termasuk larangan ekspor dari negara konsumen dengan berbagai alasan. Faktor pangsa pasar juga sangat menentukan perkembangan usaha perikanan. Jika pangsa pasar produk perikanan terbatas, tentu akan sulit berkembang. Ekspor Udang Anjlok Sri Anggoro, Kabid Harmonisasi dan Penanganan Kasus, BKIPM, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyoroti turunnya ekspor perikanan dari Lampung dalam setahun terakhir, khususnya udang.

Pada 2016 volume ekspor perikanan Lampung mencapai 26 ribu ton dengan nilai US$256,55 ribu yang didominasi udang sebanyak 23,01 ribu ton dengan nilai US$222,29 ribu. Angka itu turun drastis menjadi 15,38 ribu ton dengan nilai US$176,48 ribu pada 2017. Penurunan itu terjadi karena anjloknya ekspor udang hingga separuh atau 12,77 ribu ton senilai US$135,31. Kondisi ini menyebabkan kontribusi ekspor perikanan Lampung terhadap ekspor perikanan nasional juga merosot.

Jika pada 2016 kontribusi perikanan Lampung sebesar 3,6% dari sisi volume dan 6,18% dari sisi nilai maka pada 2017 hanya 1,79% untuk volume dan 3,69% untuk nilai ekspor. Sri meminta para pemangku kepentingan di Lampung untuk mengevaluasi terkait penyebab anjloknya ekspor produk perikanan. Ia mengatakan, tahun ini peluang Lampung meningkatkan ekspor perikanan terbuka lebar, termasuk ke Australia. Baru-baru ini tim inspeksi udang dari Australia mengunjungi PT Indokom dan pembenihan PT Prima Larvae di Lampung.

“Keduanya memiliki sistem yang terintegrasi dengan baik sehingga mendapat keyakinan dari Australia. Dengan begitu membuka peluang ekspor udang dari Lampung ke negara tersebut,” ungkapnya. Pada 2017, lanjut Sri, negara utama tujuan ekspor perikanan Lampung yakni Amerika sebesar 8.647 ton dengan nilai US$103,60 juta. Lalu disusul Jepang 2.158 ton senilai US$22,27 juta, Belanda 2.002 ribu senilai US$23,06 juta dan Inggris sebanyak 1.286 ribu ton senilai US$15,87 juta.

Pemasalahan ekspor yang dihadapi di negara ekspor, ungkapnya, untuk AS berupa tidak adanya notifikasi kasus dari USFDA, disusul kasus ikan bau, adanya salmonela, dan penerapan seafood import monitoring programme (SIMP). Permasalahan di Uni Eropa adalah belum menambah nomor persetujuan. Ada 177 Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang memiliki nomor persetujuan dari sekitar 70 UPI yang aktif melakukan ekspor. Uni Eropa juga rutin melakukan inspeksi ke Indonesia setiap tahun. Biasanya Lampung menjadi salah satu lokasi yang ditinjau.

Persoalannya, ungkap Sri, banyak ketidaksesuaian hasil inspeksi yang berpotensi mempengaruhi kelancaran ekspor perikanan Indonesia. Pendataan yang dilakukan BIKPM pada 2017, ada 14 kasus penolakan produk ikan Indonesia yang dilakukan Uni Eropa, diikuti Kanada 3 kasus, serta Rusia dan Korea masing-masing 1 kasus. Angka itu naik dibandingkan 2016 yang totalnya hanya 18 kasus. Untuk tahun ini saja Eropa menolak produk ikan yang diekspor sebanyak 11 kasus.

Ekspor Perikanan Lampung Potensial Ditingkatkan

Ekspor produk perikanan Indonesia menghadapi hambatan eksternal dan internal yang tidak kalah pelik. Perlu memangkas hambatan dari dalam negeri agar ekspor berjalan lancar. Menurut Yusuf Kohar, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), potensi perikanan di Lampung cukup besar mengingat 41% atau 24.820 km2 dari 60.200 km2 wilayah ini adalah perairan laut. Khusus budidaya kawas an pesisir yang sudah dibuka berupa tambak seluas 161.267 ha, budidaya laut 50.518 ha, keramba 11.489 unit, dan keramba jaring apung 11.532 unit.

Sumber Ekonomi Dari sisi produksi, potensi sumber daya ikan di Lampung mencapai 380 ribu ton/tahun namun realisasinya baru 120.766 ton/tahun. “Masih terbuka peluang pemanfaatan sumber daya ikan sebesar 259.233 ton atau sekitar 68,22%,” ujar Yusuf pada focus group disscusion yang digelar dalam rangka pengukuhan Korps Alumni Akademi Usaha Perikanan–Sekolah Tinggi Perikanan Wilayah Lampung masa bakti 2018-2023. Wakil Walikota Bandarlampung itu menilai, sektor perikanan dan kelautan bisa menjadi salah satu sumber utama pertum buhan ekonomi karena besarnya potensi yang belum dimanfaatkan sedangkan permintaannya tumbuh pesat.

Sektor ini juga padat karya sehingga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan bisa membangkitkan sektor hilir. Hanya saja perlu perjuangan untuk mengembangkan perikanan. Bersatunya insan perikanan dalam berbagai wadah, baik wadah pengusaha maupun praktisi adalah momentum untuk bangkitnya sektor perikanan di Lampung. Yusuf juga mengharapkan peran lebih pemerintah dalam mengembangkan perikanan.

Menurut dia, kegagalan kemitraan tambak udang terbesar di dunia, yaitu PT Dipasena Citra Darmaja karena kurangnya peran pemerintah daerah (pemda) dalam menyelamatkan perusahaan perikanan terpadu itu. “Dipasena hancur karena Pemda kurang peduli. Sebab kasusnya sama, yakni ketidakpuasan petambak mitra, tapi karena Pemda Sumsel lebih peduli, PT Wahyuni Mandira di OKI bisa diselamatkan,” urainya.

Ia mengingatkan agar kasus ini menjadi pembelajaran bagi Pemda Lampung dan meminta pemda mempermudah perizinan dan minimalisasi pungutan yang memberatkan investor. Berbagai Hambatan Selain itu, sejumlah faktor yang menghambat perkembangan sektor perikanan dan kelautan antara lain fenomena alam seperti pemanasan global, bencana alam dan populasi penduduk. Lalu, permodalan, tarif listrik, dan harga BBM.

Yang juga berpengaruh besar dalam pengembangan usaha perikanan adalah kebijakan pemerintah pusat seperti larangan operasional kapal asing. “Kapal-kapal penangkap ikan milik PT Indokom yang dibeli dari Jepang tidak bisa beroperasi karena ada larangan operasi kapal asing. Saat ini kapal-kapal itu terpaksa nongkrong di Sorong, Papua,” katanya. Menurut Yusuf, kapal itu dibeli karena teknologinya lebih canggih dan harganya bersaing dengan produk dalam negeri. Seharusnya ketika sudah dimiliki perusahaan lokal dan berbendera Indonesia, tidak lagi terkena aturan operasional kapal asing.

Budidaya Udang Sarat Inovasi ala Soleman

Membangun IPAL tidak mahal dan tidak membutuhkan lahan luas. Meski masih tergolong pemain baru, Soleman D. Lullulangi termasuk pembudidaya udang vaname di Lampung dan Bengkulu yang melakukan banyak inovasi. Mulai dari membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) ala industri, aplikasi sinar ultraviolet (UV), hingga pendederan benur. IPAL ala Industri Soleman membudida yakan si bongkok di Pa dang Cermin, Kab. Pesawaran, Lampung, serta Padang Hangat dan Tebing Rambutan, Bintuhan, Kab. Kaur, Bengkulu. Ketika memulai budidaya udang, mantan teknisi tambak PT Dipasena Citra Darmaja ini sudah berencana membangun IPAL.

Beruntung, ia memiliki teman yang paham soal instalasi pengolahan limbah pabrik. “Saya adopsi instalasi yang dimiliki pabrik minuman ringan. Di samping biaya pembuatannya tidak mahal, lahan yang dibutuhkan juga tidak luas,” alasannya. Pertimbangan lainnya setiap panen ia harus merogoh Rp28 juta buat mengangkat dan membuang limbah padat yang menumpuk di kolam penampungan. Limbah yang mengalir ke laut itu masih kotor karena pengendapannya belum sempurna dan zat organiknya masih tinggi.

Sementara limbah padat setengah kering diangkat lalu dikeringkan untuk dijadikan pupuk. Instalasi UV Soleman juga membangun saluran inlet melewati 40 unit lampu dengan sinar UV sebelum masuk ke kolam budidaya. Tujuannya mematikan bakteri, jamur, virus, dan inang yang terbawa dari laut sehingga menghemat biaya obat-obatan. Dengan instalasi UV, ia juga menghemat biaya konstruksi dan efisiensi lahan karena tidak perlu membangun tandon.

Namun efektivitas sinar UV dalam membunuh bibit penyakit belum diuji lab. Pada musim gelombang tinggi dengan kondisi air lebih keruh, ucapnya, aplikasi sinar UV sangat membantu karena air yang masuk ke kolam lebih jernih. Di sisi lain, keruhnya air di lepas pantai akibat gelombang tinggi dan ombak besar justru menguntungkan pembudidaya. “Budidaya saat gelombang tinggi lebih aman terhadap penyakit. Mungkin penyakit, terutama virus myo, konsentrasinya jauh berkurang karena terbawa arus bawah laut yang kuat ke tengah lautan,” ia menduga.

Dugaan ini bisa jadi benar karena di Pantai Timur Sumatera yang kondisi air di lepas pantainya keruh, udang jarang terserang Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) alias myo. Pendederan Di tambak Padang Cermin, Soleman mengaplikasikan teknik pendederan benur. Selama ini benur yang baru datang dari pembenihan hanya diaklimatisasi 1 jam lalu ditebar ke kolam. Dengan tenik pendederan, benur yang baru tiba dimasukkan dulu ke tangki berukuran 1,5 m3 lalu diberi pakan artemia dan dibiarkan makan selama 3 jam.

Setelah benur kenyang, baru di masukkan ke kolam pendenderan dan dipelihara selama 20 hari. Soleman mengadopsi teknik ini dari teman sesama “alumni” Dipasena. Ia belajar teknik pendederan karena udang di Padang Cermin sering terserang myo saat umur di atas 60 hari. Ketika memasuki usia 60 hari di kolam umumnya, udang yang didederkan sejatinya sudah berumur 80 hari saat di kolam budidaya sehingga jika terserang penyakit bisa langsung dipanen dengan ukuran 70 ekor/kg.

“Dari pengalaman temanteman di Yogya, aplikasi sistem yang sudah mereka jalankan selama 5 siklus budidaya ini sangat membantu dalam mencegah serangan berbagai penyakit,” ungkapnya. Ia mengakui, aplikasi pendederan ini cukup rumit. Proses pemindahan benur dari tangki pendederan ke kolam budidaya cukup merepotkan. Namun, sistem dari Yogya ini lebih simpel. Untuk memindahkan benur cukup dijaring lalu dihitung dalam boks khusus lantas dimasukan ke kolam budidaya

Melayani Konsumen dengan Sentuhan Di Personal Bagian 2

Meski secara hitung-hitungan bisnis, saat ini Moje belum mencapai target secara finansial, namun pertumbuhannya cukup menjanjikan. Itulah yang membuat There yakin akan prospek bisnis yang digelutinya saat ini.

“Bisnis ini sangat luas, menjangkau ke segala segmen,” There menambahkan. Ia mengaku sudah menjalin kerja sama dengan berbagai kalangan dan segmen usaha, baik di tingkat perorangan maupun tingkat perusahaan dari segala jenis usaha (kuliner, interior, event organizer, dsb). Seperti pengakuan There, Moje juga menerima pesanan aksesori, furnitur untuk rumah, kafé, dan perkantoran. Melayani Konsumen seperti Teman “Konsumen datang tak harus membeli,” ujar There yang memperlakukan setiap konsumennya layaknya teman.

There kerap menempatkan dirinya sebagai “konsultan” pribadi agar konsumennya menggunakan setiap anggaran dengan cermat, mengingat sebagian besar konsumennya adalah anak muda dan keluarga muda. Dari pengamatan There, barang bergaya vintage sangat pas untuk mereka yang umumnya punya jiwa bebas namun ingin yang khas (personal). “Bahkan, barangbarang peninggalan orang-tua yang ingin mereka pertahankan pun dapat dirombak lagi sehingga sesuai dengan sifat kekinian mereka dengan gaya vintage,” ucap There menambahkan.

Memilih Jalur Personal Tak memproduksi barang secara massal adalah keputusan There untuk Moje. Target saat ini adalah lebih ke personal. There yakin, banyak hal dapat dilakukan oleh Moje. Menjual produk dengan cara kekeluargaan dan mengutamakan pendekatan personal adalah cara There memahami kebutuhan konsumennya. Tak pernah lelah meyakinkan konsumennya, There selalu mendorong mereka agar menjadi home stylist untuk rumah mereka sendiri dengan menatanya sesuai karakter pribadi. “Rumah menjadi homy, jika karakter dan jiwa pemiliknya ada di sana.

Apa yang ada di rumah, harus klik dengan pemiliknya,” ujar There. Melalui bisnis ini, There melayani konsumen yang ingin menciptakan keindahan di rumahnya, dengan barangbarang vintage yang dapat dipesan secara custom. “Peduli pada keindahan yang diciptakan dari diri sendiri tentu akan lebih nyaman,” ujarnya menutup perbincangan siang itu.

Rumah yang nyaman dapat terjaga kenyamanannya ketika listrik tetap ada disaat sedang terjadi pemadaman dari PLN. Untuk itulah dibutuhkan sebuah genset sebagai sumber listrik cadangan. Harga genset yang murah bisa didapatkan melalui Distributor jual genset 450 kva di Jakarta.

Melayani Konsumen dengan Sentuhan Di Personal

Rumah menjadi homy, jika karakter dan jiwa pemiliknya ada di sana. Apa yang ada di rumah, harus klik dengan pemiliknya. Di sebuah rumah tua yang adem dengan pepohonan hijau di sekelilingnya, Theresa Lo menjalani bisnis furnitur vintage miliknya. Kasual, homy, dan penuh cerita masa lalu adalah karakter yang melekat kuat pada barang-barang bergaya vintage. Inilah yang dirasakan Theresa Lo (There), sebagai sesuatu yang “klik” dengan karakter pribadinya. Atas alasan ini, bersama sang suami, Kim Ki Suk—pria asal Korea yang menikahinya tahun 1997—ia membangun bisnis barangbarang vintage tiga tahun lalu. Sebelumnya, baik There maupun Kim, sama-sama menekuni bisnis garmen.

Tidak Masuk Mal Jika dulu saat berbisnis garmen mereka mendistribusikan produknya ke beberapa mal, kini jalur itu tak dipakainya lagi. “Belum ada rencana masuk ke mal,” ujar ibu kelahiran Jambi 1961 yang sudah dikaruniai dua anak ini. Sebagai gantinya, sebuah rumah “tua” yang berlokasi sama dengan tempat tinggalnya, dijadikannya show room yang unik dan sangat homy. Nama “Moje” yang berasal dari penyatuan dua nama buah hatinya, Jessica (15) dan Morris (12), dipilihnya sebagai nama brand dan gerainya. “Melihat karakter bahan dan gayanya, barang vintage lebih cocok dijual di rumah seperti ini,” tambah There dengan yakin.

Kualitas Produk yang Utama Layaknya barang hand made, barangbarang vintage ini dalam proses produksi memang memerlukan penangan nonkhusus. Selain memerlukan tenaga ahli dalam pembuatannya, biaya produksinya pun cukup tinggi, khususnya tentang bahan finishing (cat) yang menjadi penentu karakter vintage. “Barang-barang bekas pun sekarang tak murah,” tambah There yang mempercayakan pencarian “barang baku” furniturnya ini pada sang suami.

Tak Sekadar Finansial Tentang keberhasilan bisnis barang vintage yang sudah memasuki tahun ketiga, There mengatakan tak sekadar uang atau materi yang menjadi ukuran baginya. Kepuasan yang dirasakan ketika seorang klien menyukai barang pesanannya dan kembali lagi untuk datang dan memesan barang lainnya, itu juga dianggapnya sebagai sebuah keberhasilan.

Agar rumah tetap nyaman dibutuhkan sebuah genset untuk sumber listrik cadangan. untuk mendapatkan harga genset yang murah bisa membelinya melalui Toko jual genset 650 Kva di Surabaya.

Rekomendasi Tablet Terbaik untuk Main Game PPSSPP

Rekomendasi Tablet Terbaik untuk Main Game PPSSPP – Pertanyaan yang muncul di benak CHIP saat pertama kali melihat langsung ToughPad FZ-M1 adalah alasan Panasonic merilis tablet berbasis Windows (versi 8.1 Pro 64 bit) ini dengan layar berukuran “hanya” 7 inci, terlebih lagi jika dioperasikan dengan sentuhan jari. Jun Matsuo, (Director Toughbook Asia Pacific Group) secara diplomatis menyatakan bahwa Panasonic hanya merespons masukkan dari konsumen yang selama ini mereka dapatkan, salah satunya adalah tablet berbasis Windows berlayar 7 inci (1280 x 800 pixel, IPS LED backlighting). Faktor Windows sebagai sistem operasi (OS) yang telah “mapan”, dibandingkan OS tablet lainnya (Android, PanaSonIC ToUgHPaD FZ-M1 Tablet Windows 8 yang Tahan Banting Kini Berlayar 7 inci iOS) di lingkungan perusahaan juga menjadi alasan tersendiri. “Ramuan kuat” dari Toughpad FZ-M1 berasal dari pemakaian material casing magnesium alloy yang dipadukan dengan thermoplastic ABS dan bantalan pelindung (elastomer) di keempat bagian sudutnya.

Salah satu efeknya, tablet tersebut tidak akan rusak jika terjatuh dari ketinggian 1,5 meter (saat mati atau hidup). Kecerahanan layar hingga 500 nit terbukti saat CHIP mencoba menggunakannya di luar ruangan saat matahari terik. Layar sentuhnya yang mendukung 10 sentuhan jari ini dioptimalkan oleh software Panasonic Dashboard agar Toughpad bukan hanya mendukung interaksi sentuh, tetapi juga bisa optimal saat memakai stylus atau sarung tangan. Terdapat pula mode “water” saat cuaca sedang buruk (gerimis, angin, dan lain sebagainya).

Toughpad dengan kamera belakang 5 MP rear (LED Flash) dan webcam 2 MP sayangnya hanya memakai baterai 3220 mAh (dua cell 22Whr) yang meskipun diklaim bisa bertahan 8 jam, “hanya” mencapai durasi berkisar 4 jam saat dilakukan synthetic benchmark PCMark 8 – Battery life (4 jam, 6 menit, 20 detik). Untungnya, Panasonic juga menyediakan opsi baterai yang lebih awet (7,100 mAh) atau baterai “bridge” yang bisa bertahan selama 30 detik jika ingin mengganti baterai baru saat Windows sedang aktif. Mengingat tablet Toughpad FZ-M1 berbobot 540 gram ini dirancang untuk aktivitas di lapangan, CHIP menyarankan Anda untuk lebih berfokus pada pemakaian software berbasis user interface (UI) Metro mengingat software dengan UI klasik cenderung sukar digunakan dengan tangan. Solusi lainnya (jika harus memakai software klasik desktop), pengguna disarankan menggunakan stylus adapter tambahan beserta pegangan khusus (hand strap) agar tablet lebih nyaman dipegang saat di lapangan. Hasil performanya (benchmark) yang kurang lebih bergantung pada prosesor (Intel Core i5 4200U, GPU (Intel HD Graphics GT2), kapasitas RAM 4 GB (bisa diupgrade ke 8 GB), dan SSD (Samsung) menunjukkan skor sedikit di bawah tablet Windows dengan spesifikasi yang sama.

Namun, perlu ditekankan di sini: Panasonic tidak mendesain Toughpad FZ-M1 agar memiliki performa yang terbaik atau tercepat di kelasnya. Synthetic benchmark bukanlah tujuan akhir, karena tablet ini difokuskan Panasonic untuk menjadi tablet tahan banting (rugged tablet) yang dibuktikannya dengan sertifikat lolos uji, seperti IP65 dan MIL-STD-810G. Perlu diketahui juga, Toughpad FZ-M1 berdesain sistem cooling fanless sehingga setting serba “under” untuk prosesor, RAM, dan lainnya pasti akan diimplementasikan Panasonic. Seperti halnya notebook Toughbook, tablet FZ-M1 juga menyediakan opsi aksesori tambahan (dijual terpisah), seperti docking station/bay (desktop/vehicle), 1D/2D barcode reader, charger, Bar Code Reader, Magnetic stripe reader, GPS, HF/RFID 13.56 MHz reader, 1D/2D barcode reader, se rial port, slot microS, UHF/RFID 900MHz EPC Gen2 reader, dan lain-lain.

Mengikuti seri toughbook yang sudah dikenal sebagai notebook super kuat dan sangat awet, panasonic tetap mengandalkan tiga faktor bagi konsumen yang menggunakan produk tablet pc-nya tersebut. Ketiga faktor tersebut antara lain customisation, durability (ketahanan), dan purna jual. Ketiga hal inilah yang membedakan tablet mereka untuk sektor bisnis/enterprise dengan tablet lainnya yang berbasis Android dan ioS.

Pencapaian Smartfren tahun ini

Tahun 2013 menjadi tahun happy buat operator Smartfren. Setidaknya ada dua pencapaian yang sukses diraih. Hal itu disampaikan oleh tim Smartfren yang dipimpin oleh Hartadi Novianto, Departement Head Bundling Product Smartfren, sesaat berkunjung ke redaksi FORSEL (12 Desember). Pertama, penjualan produk Andromax-nya melesat dan laku keras. “Sejak Andromax Max I keluar, mulai terlihat peningkatan penjualan,” ujar Hartadi. Namun yang paling fenomenal adalah penjualan Andromax C. Tercatat satu juta unit telah terjual.

Namun Smartfren akan terus menambah kuantitas seri yang masih dicari konsumen ini. Prestasi kedua adalah suksesnya menjadi smartphone paling laku kedua setelah produk Samsung. Strategi ini tak lepas dari keputusan untuk menjual sendiri brand Andromax yang dipesan dari berbagai manufaktur di China. Tak heran jika Smartfren merupakan satu-satunya operator yang melakukan hal ini. Sekadar tahu, hampir semua operator memilih jurus bundling dengan vendor lain. Selain mid range, operator bertajuk Anti Lelet ini juga telah menyiapkan tablet Android pertama berukuran 8 inci dan phablet Andromax Z.

Gebyar ENDURE 120SC dan PEXALON 106SCEdukasi 10.000 Petani

Ancaman hama dan penyakit utama padi perlu dikendalikan dengan produk perlindungan tanaman yang efektif dan aman. Pemerintah Indonesia tengah giat menggenjot produksi tanaman padi untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Dalam pelaksanaan di lapangan, upaya tersebut menghadapi hambatan, seperti se – rang an hama dan penyakit. Di daerah sentra produksi utama padi, tantangan paling berat bagi petani saat ini adalah hama penggerek batang padi (Scirco – phaga incertulas) dan hama wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens).

WBC Masih Menyerang

Serangan penggerek batang terjadi hampir setiap tahun dengan menim bul – kan kerugian hingga lebih dari 50%. Sedangkan serangan wereng menjadi perhatian dan kekhawatiran petani. Apalagi pada tahun lalu terjadi ledakan wereng batang cokelat (WBC) yang cu – kup masif. Data Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman IPB me – laporkan, WBC menyerang kurang lebih 500 ribu ha tanaman padi di ber ba gai daerah di Jabar, Jateng, dan Ja tim.

Bahkan pelaku usaha merangkum luas total yang terserang sekitar 780 ribu ha. Serangan hama padi paling terkenal itu mencakup sentra produksi padi yang sangat luas, mulai dari Sumatera Utara, seluruh Jawa, hingga Sulawesi Selatan. Bahkan, petani daerah Su – bang dan Karawang di Jawa Barat su – dah empat musim tanam ini mengha – dapi hebatnya serangan WBC. WBC yang menusuk batang lalu meng isap cairan tanaman padi terse – but menyebabkan hamparan padi terli – hat cokelat seperti terbakar. Tidak ha – nya itu, WBC juga lebih berbahaya ka – rena bisa menularkan virus kerdil rum put dan virus kerdil hampa yang bi sa membuat petani mengalami gagal panen atau puso.

Dua Andalan Petani

Melihat kondisi itu, PT Corteva Agri – s cience (Agriculture Division of DowDupont) melakukan kegiatan edu kasi kepada 10.000 petani di 5 pro – vinsi Jawa dan Sulawesi, 20 Kabupa – ten/Kota. Tujuannya untuk membe ri – kan solusi terhadap permasalahan penggerek batang dan WBC. Kegiatan serempak di daerah-daerah tersebut diberi nama “Gebyar Endure 120SC dan Pexalon 106SC”. Menurut Bayu Nugroho, Product Ma – na ger EndureTM 120SC dan PexalonTM 106SC serta Project Leader Kegiatan “Gebyar Endure 120SC dan Pexalon 106SC”, di Pulau Jawa kegiat an itu dilaksanakan di Kabupaten Ka rawang, Su – bang, Indramayu, Cirebon, Suko harjo, Sragen, Surakarta, Pati, De mak, Kudus, Pemalang, Bojonego ro, Lamongan, Tuban, Ngawi, Madiun, dan Ponorogo.

Sedangkan di Pulau Sulawesi dilakukan di Kabupaten Lu wuk, Pinrang, Sidrap, dan Tolai – Parigi. Pada acara gebyar tersebut, PT Cor – teva Agriscience memberikan edukasi dan berbagi ilmu kepada petani dalam hal pengendalian penggerek batang dan WBC sekaligus memperkenalkan dua produk andalannya, yaitu EndureTM 120SC dan PexalonTM 106SC. Di setiap lokasi sekitar 300 – 500 petani diajak berperan aktif dalam pembelajaran di lahan percobaan dan stand-stand teknologi. Mereka dapat melihat langsung tentang kualitas EndureTM 120SC dan PexalonTM 106SC. Serta tidak lupa pe – tani dilibatkan dalam berbagai per – mainan edukatif sebagai hiburan dan juga pembelajaran melalui permainan. PexalonTM 106SC adalah produk spe – sial yang mampu mengendalikan wereng dengan tuntas dan cepat. Cara kerja PexalonTM dalam mengendalikan wereng memiliki beberapa keunggul – an.

Pertama, bisa mengendalikan semua jenis dan stadia wereng pada padi secara menyeluruh, baik masih berupa nimfa maupun dewasa. Kedua, durasi pengendaliannya sangat pan jang. Tidak ada produk yang bisa me ngen – dalikan selama 21-25 hari sejak penyem – protan. Ketiga, produk ini juga sangat aman untuk manusia dan se rang gaserangga yang mengun tungkan,. PexalonTM selain mengendalikan WBC juga dapat mengendalikan we – reng hijau, we reng punggung putih, dan we reng kecil yang baru-baru ini di curigai mulai ma suk Indonesia me lalui Suma te – ra. Siklus hidup serangga ber na – ma Nilaparvata lugens ini ber lang – sung 23-32 hari, di mulai dari se – rang ga, instar, nim fa, serangga de wasa tanpa sayap, dan serangga dewasa bersayap.

Wereng bersayap inilah yang mem ba – wa virus kerdil rumput dan virus kerdil hampa (klowor). Satu jam saja wereng bersayap yang membawa vi rus menempel di tanaman padi dan makan di tanaman tersebut, maka vi rus sudah ditularkan ke tanaman itu. Jika sudah terserang virus, satu-satu nya langkah petani adalah mengolah tanahnya kembali dan melakukan tanam ulang. Bahan aktif PexalonTM yaitu triflume – zopyrim bekerja sebagai racun saraf. “Bahan aktif baru golongan IVe ini menghalangi penerusan rangsangan pada simpul saraf wereng menjadi ge – rakan, seperti bernapas dan makan. Aki bat nya, wereng mengalami ke – lumpuhan, tidak bisa makan lalu mati. Bahan aktif ini bekerja sangat cepat, dalam satu sampai dua jam, wereng berhenti makan. Sedangkan produk baru lainnya yang menjadi andalan petani me – ngendalikan penggerek batang saat ini adalah EndureTM 120SC.

Endure 120SC yang masuk ke dalam Grup V adalah insektisida berbahan aktif Spinetoram yang bekerja secara unik sebagai racun perut dan kontak serta bekerja secara translaminar pada tanaman. EndureTM 120SC berbahan aktif baru dan mengantongi hak paten merupa – kan pilihan tepat sebagai pengendali penggerek batang padi ketika insektisida berbahan akif lain di pasaran tidak mampu lagi mengendalikannya. EndureTM 120SC juga merupakan in – sektisida yang mendapatkan label hijau artinya aman bagi lingkungan dan musuh alami hama di tanaman pa – di. Ini menjadi jawaban bagi keberlanjutan usaha petani dan lingkungan.